Activity

RIWANI GLOBE

Menampilkan Halaman 2

Card image cap

2022-12-16

Pelatihan Dasar Wirausaha bagi Kelompok Tani Hutan dan Pendampingnya di Kampung Dukungan di Provinsi Papua Barat

FORCLIME memiliki mandat untuk memfasilitasi dan memberikan dukungan bagi pengembangan usaha Kelompok Tani Hutan di kampung dukungan melalui Program Penguatan Masyarakat Lokal dan Kesatuan Pengelolaan Hutan. Program ini bertujuan untuk memperkuat Kesatuan Pengelolaan Hutan dalam menyediakan dan memfasilitasi keterampilan terkait pengembangan usaha dan mendukung kelompok tani hutan menuju usaha mandiri dan berkelanjutan.

Oleh karena itu, bekerja sama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat, FORCLIME mengadakan kegiatan Pelatihan Dasar Pengembangan Wirausaha bagi kelompok tani hutan dan pendampingnya (penyuluh) dari Dinas Kehutanan dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Papua Barat pada tanggal 28 November hingga 1 Desember 2022, di Sorong, Papua Barat. Pelatihan ini dibuka oleh Kepala Bidang Pembinaan Hutan dan Perhutanan Sosial, Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat, Yunus Krey, S.Hut., M.Si., dan dihadiri oleh 24 peserta.

Setelah sesi pembukaan, suasana kelas menjadi lebih hidup karena Tim Pelatih, RIWANI Globe, sebuah lembaga konsultan pengembangan bisnis dan sumber daya manusia, mendorong peserta untuk membuat peraturan selama pelatihan dan menunjuk ketua kelas dari salah satu perwakilan peserta. Diharapkan dengan adanya ketua kelas, peserta dapat menjadi pelaku utama dalam pelatihan ini, bukan hanya sebagai objek.

Pada hari pertama, Tim Pelatih memberikan materi yang bersifat brainstorming: (1) Mengapa berkelompok?; (2) Mengenal tujuan kelompok; dan (3) Membuat gagasan usaha. Pelatihan menjadi lebih interaktif dengan dukungan beberapa alat microlearning seperti metaplan, mindmapping, dan lainnya.

Pada hari kedua dan ketiga, peserta diajak untuk memahami rantai nilai produk, model bisnis kanvas, pemasaran, serta pengantar rencana usaha dan rencana produksi.

Sesi terakhir menjadi penting karena peserta diminta membuat rencana aksi. Tim pelatih membagi peserta menjadi dua kelompok: kelompok tani hutan dan pendamping. Dari situ, akan ada dua rencana aksi. Harapannya, melalui rencana aksi yang dibuat, peserta dapat konsisten mengikuti prosedur perizinan usaha serta menerapkan materi yang sudah dipelajari selama pelatihan.

Setelah pelatihan dasar kewirausahaan, sesi berikutnya adalah pendampingan yang dilakukan secara online, yang direncanakan akan dilaksanakan pada awal tahun 2023.

Card image cap

2022-09-26

Lokakarya Strategis Pembelajaran dan Keberlanjutan Program Percontohan Pusat Informasi dan Layanan Terpadu Satu Atap (LTSA-MRC) untuk Pelindungan PMI dan Keluarganya yang Responsif Gender

"Safe and Fair: Realizing Women Migrant Workers’ Rights and Opportunities in the ASEAN Region (2018-2022)" merupakan bagian dari Spotlight Initiative Uni Eropa-Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sebuah inisiatif multi-tahun untuk menghapuskan kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan. Program ini dilaksanakan oleh ILO dan UN Women, yang dipimpin oleh Kantor Regional ILO untuk Asia dan Pasifik. Safe and Fair bertujuan memberikan bantuan dan dukungan teknis untuk membuat migrasi tenaga kerja aman dan adil bagi semua perempuan di kawasan ASEAN.


Integrasi Pusat Sumber Daya Pekerja Migran (MRC) yang Responsif Gender dengan Layanan Terpadu Satu Atap Pemerintah (LTSA) untuk Perlindungan Responsif Gender bagi Pekerja Migran Indonesia merupakan model percontohan pertama di Indonesia. Ini adalah bentuk kerjasama multi-pihak antara pemerintah, serikat pekerja, dan organisasi/ pusat krisis perempuan. Menteri Ketenagakerjaan bersama para bupati telah meluncurkan empat Pusat Informasi dan LTSA Pelindungan PMI dan Keluarganya yang Responsif Gender (Migrant Worker Resources Center/MRC) di empat kabupaten: Cirebon, Lampung Timur, Tulungagung, dan Blitar.


Lokakarya telah terlaksana selama 3 hari, yaitu pada tanggal 29-31 Agustus 2022, berlokasi di Hotel Ciputra Semarang. Hari pertama dan kedua lokakarya dihadiri oleh para pemangku kepentingan, termasuk pengelola dan pelaksana MRC di empat kabupaten tersebut. Workshop ini difasilitasi oleh Ibu Rini Wahyu Hariyani dari RIWANI Globe menggunakan metode partisipatif untuk memastikan semua peserta terlibat dalam proses.


Workshop ini mencakup sesi dialog dengan narasumber, dilanjutkan dengan sesi berbagi pengalaman, temuan, tantangan, dan praktik terbaik dari MRC di empat kabupaten. Diskusi juga dilakukan untuk menyusun kesepakatan kolaboratif mengenai rencana ke depan.


Melalui lokakarya ini, para peserta mendapatkan kesempatan untuk bertukar informasi dan membangun rencana strategis yang dapat meningkatkan perlindungan dan pemberdayaan pekerja migran perempuan di Indonesia.