Beberapa tahun terakhir, marketplace seperti Shopee dan TikTok Shop menjadi tempat favorit banyak pelaku usaha untuk berjualan. Prosesnya mudah, pasar luas, dan promosi bisa berjalan cepat. Banyak UMKM hingga brand lokal tumbuh besar lewat platform-platform tersebut.
Namun belakangan, mulai muncul fenomena baru. Tidak sedikit seller yang perlahan mengurangi aktivitas di marketplace, bahkan ada yang memilih keluar sepenuhnya dan kembali fokus membangun penjualan mandiri.
Salah satu alasan yang paling sering dibicarakan adalah biaya yang semakin tinggi.
Mulai dari potongan admin, biaya layanan, biaya iklan, voucher subsidi, hingga persaingan harga yang semakin ketat, semuanya membuat margin keuntungan seller menjadi semakin tipis. Di sisi lain, seller juga dituntut untuk terus mengikuti tren promosi agar produk tetap muncul dan tidak tenggelam di antara ribuan kompetitor lainnya.
Banyak pelaku usaha merasa bahwa omzet memang masih bisa besar, tetapi keuntungan bersih yang didapat tidak lagi sebanding dengan effort yang dikeluarkan.
Karena itu, beberapa bisnis mulai mencari cara lain untuk bertahan. Ada yang mulai membangun website sendiri, memperkuat komunitas pelanggan loyal, memaksimalkan WhatsApp dan Instagram, hingga fokus pada repeat order dibanding mengejar traffic marketplace semata.
Fenomena ini menunjukkan bahwa marketplace sebenarnya tetap penting, tetapi tidak bisa lagi menjadi satu-satunya sumber penjualan. Bisnis yang bertahan di era sekarang adalah bisnis yang memiliki kontrol lebih besar terhadap pelanggan, branding, dan strategi distribusinya sendiri.
Di tengah perubahan digital yang sangat cepat, pelaku usaha perlu lebih adaptif. Bukan hanya soal ikut platform yang sedang ramai, tetapi juga memahami bagaimana menjaga bisnis tetap sehat dalam jangka panjang.
